Sepatu Baru

: Femilia Pertiwi

/1/
Pulang sekolah waktu kelas dua
ia dapat sepatu baru

/2/
Dipakainya sepatu itu, sepatu
yang amat unik, berwarna entah dengan model
mirip angka. Lain dari yang lain

“ mau kemana, Putri?” kata temannya
memuji. “ sama sepertimu tapi sepatu ini
lebih cocok untuk kesana”. “masa?”

Aku lihat mereka sama-sama pergi ke masjid

/3/
Setiap berangkat tidur.
Ia kencangkan tali sepatunya, agar
kaki tak lari cari sepatu lain

[ Fiksi Mini] Petinju

1.Nasihat Ibu

Setelah jadi petinju ia jadi tahu kenapa ibunya menasihati :
lebih baik memberi daripada menerima

2.Lain Aturan

Ia sedang bertanding, seru sekali, ia memukul wajah musuhnya satu kali, musuhnya balas dua kali, begitu berlanjut, hingga akhirnya ia K.O,

Dan ia dinyatakan menang

3. Kelemahan Petinju


IA sangat kesulitan dapat pacar, sebab ia tidak pandai menembak, maklum ia seorang petinju, ia hanya jago memukul

[ Fiksi Mini] Lupa Sebuah Kata

Ketika ia menulis sebuah puisi ia lupa sebuah kata yang dapat mewakili perasaannya atau mungkin keadaaannya

ia cari di KBBI tak ada, di puisi-puisi penyair pendahulunya tak ada, di karya miliknya juga tak ada, lebih tepatnya ia hanya menemukan isyarat tubuh yang artinya sama dengan kata itu

kemarin pagi di suatu surat kabar di kolom puisi, aku temukan seseorang mati gantung diri

Fiksi Mini Buat Cynthia Ayu Windani

1. Lapangan Streetball

Malam itu kami izin pada lapangan( kompleks - kompleks, sekolah - sekolah, halamam - halaman rumah, juga jalan - jalan raya) untuk main streetball, namun tak ada yang bersedia, kemudian kami mencari cari hingga akhirnya bertemu kau,
"bermainlah di lapang dada aku" katamu

2. Skateboard

aku dan kau, sama - sama punya skateboard

skateboard kau sengguh beruntung, tiap hari kerjanya keluyuran, pernah suatu ketika aku pergoki ia keluar hotel malam - malam, sambil meluncur riang

sedang skateboard aku (yang sebenarnya pemberian kau), sungguh celaka nasibnya, pagi - pagi harus sudah terjaga, agar bisa mengantar bencana berupa koran pada orang - orang ( yang mulai terbiasa dengannya, malah sampai ketagihan melihat dan ngamuk - ngmuk bila ia terlambat, apalagi tidak diantar)
lantas ke sekolah buru - buru, pulang baru ketika senja, sebab jalan begitu macet

Ayu, nanti malam setelah ia terlelap, aku kembalikan ia padamu, sebab aku tak tega ia begitu

3. Ke Sajak Aku

habis menerima raport kau langsung melesat ke sajak aku, ingin menunjukkan angka - angka merah mungkin, agar aku tak lagi meremehkan kau, sayang, kau diusir baris terkuat di paragraf pertama
" kau tidak membaca judul sajak ini ya?

kau menengadah, terdengarlah kalimat:
YANG PUNYA HAK DILARANG MASUK

Mimpi

1/
Tadi malam aku bermimpi
bertemu Sapardi
tulislah puisi, katanya dengan gaya menbaca puisi
tapi aku tak punya katakata indah, kataku dengan gaya menunjuk gigi
ah, tulislah dengan katakata usang saja, katanya dengan gaya seperti tadi
2/
atas saran Pringabdi
aku belajar puisi pada Hasan Aspahani
di facebook dan blog sejuta-puisi
3/
dengan ragu, kutulis juga puisi
dengan katakata yang aku punya
dengan tema yang jarang dipuisikan.
Kukirim ke korankoran

o, astaga, puisi aku dimuat
bersanding dengan punya Joko Pinurbo
4/
di sebuah pesta, aku diundang untuk membaca puisi
gugup sekali, karena ini pertama kali
tanpa disangka tanpa diduga
suaraku meluncur indah meluncur mewah
kata hadirin mirip suara Tardji
5/
sejak itu, aku makin jadi terkenal
tapi lebih terkenal sajak aku
setidaknya bagi anakanak sekolah
sebab sajak aku nampang di buku pelajaran
bersama pahlawan tak dikenal

Pulsa Terakhir

Rumahmu pindah kemana
padahal kemarin masih
di bawah kolong jembatan
aku kirim banyak pesan belum juga
ada balasan. Kecuali : maaf ini pulsa terakhirku

Telpon Genggam Pertama

Tuhan menciptakan telpon genggam
lalu diberikan kepada Adam
dan Hawa. Dengan syarat tidak boleh
makan buah khuldi

tapi mereka berdua melanggar
“ turun kalian ke bumi, turun kalian ke bumi
telpon genggamnya sukses”kata-Nya

Telpon Genggam di Gua Hiro

Konon Nabi Muhammad
menemukan telpon genggam di gua hiro
setelah diambil, telpon itu bergetar
-ada panggilan masuk
belum sempat diangkat sudah ada suara : bacalah

Punya Telepone Genggam

Kau punya telepon genggam? Tanyaku pada-Nya

tak ada jawaban

sayang, padahal aku ingin
mengirim pesan pada-Mu : tanggal berapa habis masa aktifku

Akubaca Laskar Pelangi

: Ridwan Firdaus

Aku baca laskar pelangi, yang katamu
karangan Andrea Hirata, aku
tak peduli siapa dia, atau dimana
kampung kelahirannya. Aku hanya ingin bertemu
kau disana

setelah lama dicari, akhirnya kutemukan kau di halaman 133, sedang ditunjuk Ibu Mus
bernyanyi,
aku kecewa, sebab aku ingin kau membaca sajak saja
misalnya “ kerawang-bekasi”,”buku tamu musium perjuangan”
atau “ pahlawan tak dikenal”

dan mengapa kau memilih lagu itu?
Katakanlah, mahar
macam Tennesse Waltz selalu bisa
bikin kuping, hidung dan mataku
muntah

anehnya, temanteman dan Ibunda Guru terkesima
mendengar airmata kau
bahkan mereka sampai tepuk tangan segala

Madura, akulah darahmu

Catatan : puisi inilah yang membuat saya tergugah, menulis puisi, waktu itu saya merasakan tubuh saya bergetar hebat, terimakasih buat pak( bingung sih mau manggil apa) D. Zamawi Imron

Madura, Akulah Darahmu
oleh: D. Zamawi Imron

di atasmu, bongkahan batu yang bisu
tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa
biar berguling diatas duri hati tak kan luka
meski mengeram di dalam nyeri cinta tak kan layu
dari aku
anak sulung yang sekaligus anak bungsumu
kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah
bahwa aku sapi karapan
yang lahir dari senyum dan airmatamu

seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah,
sebasah madu hinggaplah
menanggung biru langit moyangku, menanggung karat
emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua

si sini
perkenankan aku berseru:
-madura, engkaulah tangisku

bila musim labuh hujan tak turun
kubasahi kau dengan denyutku
bila dadamu kerontang
kubajak kau dengan tanduk logamku
di atas bukit garam
kunyalakan otakku
lantaran aku adalah sapi karapan
yang menetas dari senyum dan airmatamu

aku lari mengejar ombak aku terbang memeluk bulan
dan memetik bintang-gemintang
di ranting-ranting roh nenekmoyangku
di ubun langit kuucapkan sumpah
-madura, akulah darahmu.

[ Legenda # 1 ] Kerapan Sapi

1/
Pagi dimulai, matahari sudah didirikan
semua sapi telah bangun, membajak sawah
menanggalkan kantuk mata

“kenapa mereka jadi rajin?” kata petani
istrinya tak menggubris, asik menyusui anak
yang baru kemarin dilahirkannya
2/
di rumahnya, sapi memperbanyak makan
rumput dari luar negeri, yang katanya lebih bergizi.
Lebih banyak mandi, hingga tak satupun kutu
betah tinggal di bulunya itu
3/
petani pusing, badannya pegal, tulang–tulang mau
rontok di punggung
seharian tak bekerja, semua lowongan diserobot sapi
4/
pada sebuah hutan di hari minggu, sapisapi berkumpul,
keren, semua pakai baju mewah, ada bunga di tubuhnya
harum sekali

“mari kita mulai” kata seekor sapi yang paling besar
“ayo”, sekejap mereka berbaris, satu garis
, kakikaki siap menghentak, mata terbakar
lurus kedepan

“ satu, dua, tiga,
yak, mulai”
mereka langsung berlari, cepat sekali, suaranya keras mendobrak telinga

petani yang dari tadi mengintip, jadi berdiri
tubuhnya bergetar, bulu kuduk bangun, mata basah
akhirnya, ia kabur
“ kerapan sapi, kerapan sapi, kerapan sapi”

[ Fiksimini # 1 ] Lulus SMA

: dillah

Ia lulus dengan hasil sempurna, tadi korankoran memburu-mau memajang wajah jeniusnya, tapi ia tidak ada di rumah. Minggat, takut ibunya marah, sebab ia sudah akan tidak sekolah, itu berarti melanggar wasiat ayahnya:

“ nak apapun yang terjadi kau harus tetap sekolah”

Ketika Mudik

Turun dari bus, langsung bertemu seseorang
menyapa, lalu ia mengajak ke rumahnya
sekedar minum kopi dan bercerita, katanya

seperti aku kenal wajah itu, mirip teman lama
tapi ia tidak serombeng ini, dan dulu matanya
tungku api

disedu kopinya mas, katanya
aku menurut. Kuletakkan bibir
mengelus rasanya
kok manis?, “terlalu manis ya?”
Loh, kamu madura, kan, biasanya kan asin

Ia mengangguk, sambil garukgaruk
aku purapura tidak melihat
lalu pulang meninggalkan mereka : kopi dan si pelupa

Surga

RumahMu dibangun kecil saja
karena Kau tahu, tak banyak
yang mau bermalam disana

Setelah ada hotel yang merah menyala

merah putih

/1/
pada hari pahlawan, ada upacara peringatan
aku heran, sebab peserta upacara
menghormat pada tiang
merah putih dibiarkan tergeletak
di bawah, sejajar dengan kaki – kaki mereka

saya kira akan dinaikkan
setelah indonesia raya dinyanyikan
gaya baru, agar siswa tidak bosan

mungkin
semoga saja

/2/
melihat mereka khusuk mengikuti upacara
saya terkenang masa perjuangan
dimana kakasih adalah merdeka dan
pelindung paling kokoh adalah bedil

maka bersama Jenderal Sudirman kami berjuang
tak peduli peluru menembus tubuh 
sebab kami menganggap perih adalah obat paling ampuh
bagi perindu kekasih seperti kami

ya, ya....banyak pahlawan yang gugur
dan mereka pantas menerima tanda terima kasih
dengan cara yang tidak biasa

/3/
saya hampir tidak percaya, mereka sama sekali
tidak menaikkan merah putih, sampai upacara bubar

dan peserta upacara sebagian besar sudah pulang
hanya dua orang siswa – siswi yang asik berbincang – bincang
di bawah tiang
tempat merah putih digelar

mungkin meraka yang akan menaikkan merah putih
sebab penghormaran harus dilakukan orangorang pilihan

tapi tiba – tiba siswi tadi mengaet lengan siswa d sampingnya
setelah memeriksa barang – barang bawaan di tas merah putihnya

musim kemarau tumbuh di tubuh aku

musim kemarau tumbuh di tubuh
setelah bibir kau tak lagi mencumbu aku

rambut, bulu – bulu, dan tulang – tulang aku
kian kering, menunggu kecup kau

memang, kemarau diciptakan untuk penantian;
sebuah ujian,
agar ikatan semakin erat atau lepas sama sekali

makanya meski kulit bertambah padang pasir
dan para musafir menawarkan air
aku akan hanya menerima satu macam hujan
yaitu ludah dari bibir kau

[ Arisankata # 3 ] bersama Steven Kurniawan

Lagi – lagi saya mengajak main arisankata, kali ini dengan mas steven kurniawan pengelola blog http://sketsa-puisi.blogspot.com/ini dia kata – katanya
daun, telur, lampu, pena, rambut, pelangi, roda, piala, ikan, jubah.

Mas steven lebih dulu menyelesaikannya jauh hari, sedang saya baru menyusul sekarang
ini dia ramuan mas steven

Surat
sajak steven kurniawan


hanya di dalam kartu ucapan saja seseorang
boleh menggambarkan berupa-rupa tanda baca
setelah menerakan beberapa harapan sederhana:
semoga umur diperpanjang atau sedikitnya
mudah-mudahan surat ini sampai ke tujuan

aku pernah menulis sebuah kartu ucapan untuk
diri sendiri dengan harapan kecil seperti
semoga saja ada tukang pos yang tiba dengan
surat kecil darimu walau gerimis panjang
melekatkan daun-daun pada jubah basahnya

segera kunyalakan pelangi di halaman rumah
agar hujan lekas reda kemudian terdengar suara
roda sepeda yang membuncah lamunan hingga
kupandang kembali lunturan tulisan pena
pada suratmu yang akhirnya tiba tadi pagi

amplop bergambar ikan seperti tanda koma dengan
cap pos berbentuk piala itu mengenangkanku kalau
engkau pernah ingin menjadi seperti ikan agar
dapat bebas berenang untuk menemui kekasihnya
di luas lautan tanpa pernah mengenal rindu

bukankah hanya dengan rindu maka cinta ada?
aku berpikir kembali sambil membuka surat
yang membawa lembut harum rambutmu merebak
perlahan di bawah remang lampu meja tetapi
hanya kutemukan sebuah kalimat di suratmu

Engkaulah telur dalam dekap hangat kerinduan





dan ini hasil kerjakeras saya, hehehehe.. masih kalah jauh saya sama dia euy,,

dua persiapan menyambut masa depan
1
aku harus lebih giat menabung
belum lagi persediaan sedih-seduh yang sedikit
singgah di saku baju, padahal sudah turun hujan disana
tapi airmataku tak pernah basah

oleh karena itu aku lebih sering memasukkan keahlian
misalnya menumbuhkan luka di sekujur tubuh
tanpa harus menyiramkan air agar menjadi pohon yang lebat
daunnya

2.
aku akan membuang seluruh kebahagian yang pernah kau tanam ;
pelangi di sela rambut, lampu penerang kaki, piala berbentuk roda
yang berukir ikan yang bertelur, dan jubah yang selalu diperebutkan
semuanya
sebab sungguh meraka bisa membuatku tertawa atau sekedar tersenyum
mengenang kau atau mengenang aku
kau tahu? sekarang semua itu telah dilarang

Sajak yang aku tulis tentang ayah

/1/
aku senang kekacauan

makanya aku ingin sekali membantu israel meyerang
palestina atau memberikan senjata
bagi keduanya

atau juga membantu mall – mall didirikan
dengan menggusur rumahrumah kumuh, lalu memberikan
semangat penghuninya untuk melawan

bahkan,
saat kau dan ibu bertengkar, aku ingin menyediakan
senjata tajam untuk tangantangan kalian

sayang, selalu saja aku terlalu asik menonton
sampai – sampai airmata berjatuhan
tanpa sempat melakukan semua itu

/2/
pintu depan dan belakang telah ditutup ibu
bahkan jendela dan ventilasi juga
seakan seluruh anggota keluarga sudah berangkat
tidur

dan kau selalu membantu ibu
menutup semua itu
dari luar

/3/
sekarang sedang musim salju
aku dan ibu berselimut tebal
mengundang kehangatan
yang tak kunjung datang

sedang kau, di luar rumah
tenang – tenang saja telanjang
sambil mendekap bulu
yang warnanya sama dengan selimut ibu