Langit mencintai matahari selama langit belum runtuh kata lelaki tua itu sambil menyaksikan wajah langit yang merah merona seperti malu-malu dibunuh matahari lelaki tua itu menepuk pundakku setelah senja menarik mayatnya sendiri seperti mengejek mitologi senja yang aku tulis tangannya yang menyentuh pundakku seperti ingin berkata padaku sebelum langit runtuh mitologi senja anak muda tak akan genap kau tuliskan dan alangkah terkejutnya lelaki itu dan aku ketika pena aku letakkan langit kembali merah merona di satu hari itu merah merona yang berbeda hingga lelaki tua itu dan aku tak tahu harus bagaimana menyambut mimik langit yang lain ini.
2009
No comments:
Post a Comment