Mulutku Terkubur di Mulutmu
:Chairil Anwar, Hasan Aspahani & Bernard Batubara
memang mulutku untuk mulutmu,
yang bunga seperti kamboja,
dengan bibir setengah terbuka,
seperti warna senja,
ketika gerimis tak menyembunyikan lagi rahasia,
bunyi airnya yang jatuh ke tanah,
seperti air mata seperti do'a-do'a,
sahabat, kekasih atau pun keluarga,
sebelum akhirnya derit pintu terdengar,
seperti membuka surga atau neraka,
tapi bagiku kini apa beda,
sebab di antara nisan-nisan kosong,
yang berbaris rata, lidahmu
yang seperti gagak seperti kafan,
sudah menulis sebuah epitaph;
namaku dan dua tanggal yang nyaris sama,
sementara mulutku masih menyimpan gairah pagi,
dan sepotong kalimat yang belum sempat diucap,
mungkin maaf mungkin cinta,
tapi mulutku untuk mulutmu,
tapi mulutku untuk mulutmu
tapi mulutku untuk mulutmu!
lalu
mulutku terkubur di mulutmu
2010
No comments:
Post a Comment