Blub! blub! blub

Blub! blub! blub



Blub !blub !blub. Budi tenggelam. Kalau saja Budi tenggelam di laut itu tak mengkhawatirkan karena dia jago berenang. Andaikata Budi tidak jago berenang, pasti mudah menyelamatkan Budi. Tapi Budi tenggelam di daratan! Tentu saja Budi tidak bisa berenang di daratan. Budi hanya bisa berenang di laut atau kolam renang.

Padahal tangan dan kaki Budi sudah bergerak-gerak seperti gaya katak, gaya bebas sampai gaya kupu-kupu tetapi Budi tetap tenggelam. Semakin tenggelam dan semakin tenggelam. Sepertinya dia sudah banyak minum tanah. Sebagian warga berkumpul menyaksikannya. Mereka tidak berada di samping tempat tenggelamnya Budi tetapi tepat berada di atasnya.




Walau pun tanah itu berwarna coklat, entah kenapa mereka bisa melihat Budi tenggelam. Memang kejadian ini tidak masuk akal tetapi memang begitulah yang terjadi.

"Cepat tolong dia bodoh." Kata seseorang di antara mereka.

"Enak saja. Lakukan sendiri kalau bisa."

"Saya tidak tahu caranya."

"Saya juga."

"Lalu kenapa dia bisa tenggelam? Bukankah tanah tidak menenggelamkan? Maksud saya tanah kan benda padat? Lihat kita berada di atasnya. Kita bisa berpijak, bukan?"

"Mana saya tahu."

Budi memang baru saja tenggelam. Tapi seseorang harus menolongnya, seseorang harus menyelam ke tanah lalu membawanya ke permukaan tanah. Ya, seseorang harus menolongnya, sebelum terlambat. Sebelum darah dalam otaknya membeku karena kekurangan oksigen.

"Oi. Oi. Apakah di antara kalian ada yang bisa berenang di daratan?"

Semua orang menoleh dan saling menunjuk.

"Hei, kamu kan atlet renang?"

"Iya."

"Cepat tolong Budi, goblok, sebelum dia mampus."

"Saya memang atlet renang tapi Budi juga, bahkan Budi lebih jago, kalau Budi saja tenggelam bagaimana dengan saya?"

Lelaki Berambut Merah menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Keras. Tanah yang kuat, berdebu dan mengandung batu di bawahnya. Beberapa orang menirukannya. Entah mereka sedang berusaha menolong Budi atau mereka takut jangan-jangan mereka juga ikut tenggelam seperti Budi. Tetapi tidak ada tanda-tanda tanah itu bisa menenggelamkan. Mereka tetap berpijak di tanah.

"Aneh."

Orang-orang diam sejenak. Berpikir. Mendadak saja mereka teringat perbuatan Budi yang selalu berbuat onar. Pernah suatu ketika Budi dengan gerombolannya memperkosa Sumirah ramai-ramai. Belum puas memperkosa Sumirah, Budi dengan gerombolannya memperkosa Ratih yang memang kebetulan pulang bersama Sumirah. Tidak hanya itu, mereka seperti secara serentak mengingat sederet kejahatan Budi.

"Ini pasti karena dosa-dosa yang telah dia perbuat."

"Benar. Ini pasti karena dosa-dosa yang telah dia perbuat." Kata Kakek Tua. "Cucu saya pernah dia bunuh. Diancuk."

"Ini pasti azhab dari Tuhan. Kita tidak mungkin menolongnya."

"Betul. Betul. Betul. Kita tidak mungkin menolongnya. Kalau pun kita bisa menolongnya, saya tidak sudi menolongnya. Cuih."

Budi terus tenggelam dan terus tenggelam. Semakin dalam dan semakin dalam. Tetapi tubuhnya masih terlihat jelas. Dia masih berusaha untuk naik ke permukaan tanah. Tentu saja bukan sekedar mengambil oksigen sebab dia tidak sedang latihan renang atau bermain.Tangan dan kakinya bergerak-gerak mempraktekkan gaya katak lalu gaya bebas lalu ganti gaya kupu-kupu. Meski pun tidak berhasil, dia terus bergerak.

"Tetapi itu kan sudah dulu teman-teman. Sekarang dia sudah lain, dia sudah bertaubat. Dia sudah tidak pernah berbuat kejahatan lagi sejak tahun 2010."

"Iya Dik, kalau saya ingat-ingat benar juga ucapanmu tadi. Dia rajin sholat dan kalau tidak salah ingat dia juga berpuasa di Bulan Ramadhan tahun kemarin."

"Aaah, jangan ketipu. Itu mungkin hanya akal busuk dia. Ingat tidak? Ketika kita mengeroyoknya karena mencuri uang milik Pak Haji?"

"Betul. Betul. Betul. Saat itu dia berjanji tidak akan mencuri lagi. Eh, belum seminggu dia mencuri lagi."

"Sudah saya bilang itu kan dulu. Sekarang dia beda. Dia benar-benar bertaubat."

"Kalau pun dia benar-benar bertaubat, Tuhan tidak mungkin mengampuni dosa-dosanya."

"Tentu saja mungkin anjing. Tuhan Maha Pengampun."

Sebagian warga itu sibuk mempertahankan pendapatnya masing-masing. Sampai-sampai lupa bahwa Budi harus segera diselamatkan. Bagi pihak yang tidak mau menolong Budi hal tersebut wajar, akan tetapi bagi pihak yang mau menolong Budi tentu saja hal tersebut menjadi aneh lebih aneh dari tenggelammnya Budi. Padahal tubuh Budi terus tenggelam dan tenggelam. Tubuhnya seperti tersedot sesuatu dengan perlahan.

Lima menit sudah Budi tenggelam. Belum ada seorang pun yang menolongnya atau mungkin lebih tepatnya belum ada seorang pun yang tahu cara menolongnya.

Beberapa warga yang kebetulan lewat di jalan setapak itu menghampiri kerumunan.

"Ada apa nih?"

"Budi si Bajingan tenggelam."

"Bukan anjing. Budi si Anak Sholeh tenggelam."

Bukannya menolong, eh, mereka yang baru datang malah ikut asik berdebat. Ada yang memilih memihak bahwa Budi Bajingan dan tidak pantas ditolong. Ada juga yang memihak bahwa Budi sangat pantas ditolong. Tak lama semua warga berkumpul di jalan setapak itu dan semuanya malah ikut berdebat.

Bagai tumor ganas kejadian ini menyebar ke desa sebelah, lalu ke desa sebelahnya, lalu desa sebelahnya lagi, dan hanya butuh sepertujuh menit menyebar ke kota terdekat, lalu ke kota sebelahnya, lalu kota sebelahnya. Kejadian ini benar-benar seperti tumor ganas. Apalagi setelah semua stasiun televisi memberitakannya. Langsung.

"Seorang lelaki berumur sekitar dua puluh sembilan tahun yang diketahui bernama Budi tenggelam di daratan. Tanah tempat dia tenggelam sangat keras bahkan melompat-lompat di atasnya tidak membuat kita tenggelam. Entah bagaimana kejadiannya dia tenggelam. Sudah sepuluh menit lebih dia tenggelam dan dia masih hidup sebab nafasnya kuat, maklum dia seorang atlet renang nasional."

"Para warga sedang mendiskusikannya, apakah Budi harus ditolong atau tidak meninjau dan menimbang perbuatannya selama ini."

Lima belas menit sudah Budi tenggelam. Tubuhnya tidak bergerak-gerak lagi.

Sekali lagi ada kumpulan orang datang. Mereka berbaju compang-camping. Baju khas preman. Mereka berjalan mantap bagaikan serdadu yang siap menyambut perang. Di mulut atau di tangan mereka terlihat sebatang rokok yang menyala.

Setelah sampai di kerumunan itu, mereka bertanya apa yang sedang terjadi. Setelah tahu mereka pergi dan masuk seenaknnya ke rumah warga yang terdekat. Bukan menjarah tetapi hanya mengambil tangga dan secara bergantian naik ke atap rumah.

"Hei mau apa kaliahn di atap rumah saya?"

"Maaf kami pinjam atap rumahmu sebentar. Kami ingin menolong Budi dan terjun dari sini!"

"Bodoh, tanah ini keras dan buat apa kalian menolong Budi?" Kata Lelaki Bermata biru. "Bukankah Budi bukan lagi Bos kalian?"

"Itu memang benar, Budi memang bukan lagi Bos kami. Akan tetapi Budi adalah saudara kami!"

"Bodoh, kalian tidak ada hubungan darah."

"Shishishi, Apakah kau tidak tahu? Ketika orang berbagi cangkir alkohol, saat itulah mereka menjadi bersaudara."

"Dasar orang-orang bodoh."

Mereka sudah melepas baju mereka dan kini tinggal celana dalam saja. Salah satu di antara mereka membuang rokoknya. Dia memasang kuda-kuda seperti ingin terjun ke tanah tempat Budi tenggelam. Gerak-gerik tubuhnya terlihat tanpa keraguan sedikit pun.

Kamera sekarang mengarah pada mereka.

"Mau apa dia? Apa dia ingin terjun? Apakah dia ingin menolong Budi? Bisakah dia? Kami akan mengabarkannya pada pemirsa setelah pesan-pesan berikut ini."

Tayangan telivisi boleh saja berganti iklan sabun mandi tapi aksi Pemuda Berambut Hijau tentu saja tidak berhenti. Setelah iklan selesai dan kembali menayangkan berita tenggelamnya Budi. Pemuda Berambut Hijau tersebut sudah berenang-renang di dalam tanah itu. Kakinya ditekuk kemudian menendang lurus ke belakang dengan posisi kedua kaki terbuka kemudian kedua kakinya dirapatkan. Gerakan kaki tersebut bersamaan dengan gerakan tangannya yang mula-mula lurus di atas kepala lalu ditarik ke samping sampai batas bahu. Sampai akhirnya dia memegang tubuh Budi.

Namun suasana berubah, gerakan kaki dan tangan Pemuda Berambut Hijau itu tidak bekerja ketika digunakan untuk naik ke permukaan tanah. Alih-alih ke atas malah tubuhnya tenggelam. Seperti tersedot sesuatu secara perlahan.

Melihat hal tersebut Pemuda Berhidung Panjang memasang kuda-kuda seperti ingin terjun. Gerak-gerik tubuhnya terlihat tanpa keraguan sedikit pun. Dia meloncat. Setelah melakukan gerakan berputar tubuhnya melesat ke arah tanah bagai roket. Byur. Pemuda Berhidung Panjang berenang-renang di dalam tanah itu. Kakinya ditekuk kemudian menendang lurus ke belakang dengan posisi kedua kaki terbuka kemudian kedua kakinya dirapatkan. Gerakan kaki tersebut bersamaan dengan gerakan tangannya yang mula-mula lurus di atas kepala lalu ditarik ke samping sampai batas bahu. Sampai akhirnya dia memegang tubuh Budi.

Seperti Pemuda Berambut Hijau, gerakannya tidak berguna untuk naik ke permukaan.

Meski pun sudah dua teman mereka tenggelam, hati kumpulan preman itu tetap kokoh bagai Tembok Besar Cina. Maka bagaikan serdadu perang menyongsong peluru musuh, mereka secara bergantian terjun untuk menyelamatkan Budi. Seakan-akan bila tidak melakukah hal tersebut mereka tidak pantas hidup.

Sementara warga desa sedang berdebat apakah perbuatan kumpulan preman itu menolong Budi bernilai baik ataukah buruk dan telivisi menayangkan semuanya ke seluruh penjuru tanah air.





Surabaya, 11 Februari 2010

No comments:

Post a Comment