Pengemis. kukira dialah orang yang paling bahagia, dengan langkah paling lemah berjalan dari rumah yang seluas kardus, ia pergi dengan senyum mendoakan penumpangpenumpang tanpa mengharapkan recehan, ah aku salah ternyata ia orang paling kaya
Pengamen. bahkan sebelum jemarinya memetik gitar para penumpang sudah terhibur, dan aku terkenang masa kecilku dulu: bernyanyi bintang kecil lalu entah kenapa ibuku menangis sedu, dan aku tak lagi dikursuskan menyanyi, kau tak bakat mengamen anakkku, katanya, kini aku tahu alasan ibuku menangis mungkin karena ia bahagia mendengarkanku bernyanyi
Supir. Ia mengenal semua jalan, bergegas meninggalkan terminal mengantarkan penumpang, semuanya sedang dikejar, maka kita harus cepat pergi katanya, tetapi katakataku tak pernah berlepasan dari bibirku selain diam, seperti puisi cinta yang kutulis tak pernah jadi, seperti juga pak supir yang bekerja mengantarkan tapi tak pernah membuat penumpang benar - benar sampai.
Penumpang . Sebab dialah terminal ini ada, tujuan memang tak pernah ditemukan bahkan setelah turun dari angkutan, seakanakan hidup ini tak akan benar - benar sampai sebelum kematian, seperti katakata cintaku padamu yang tak segera meluncur dari bibirku
No comments:
Post a Comment