Menulis Memoar itu Asik

Teman saya, Ayu yang beralamat blog di sini menampilkan tag title blognya: Memoar Ayu. Posting blognya mempunyai category post (Sebenarnya mesin blogspot tidak mempunyai category post, hanya saja para peggunannya memanfaatkan label) : Biografi, puisi, cerita dan jurnal.

Perlu dicatat posting kampung-puisi kali ini tidak membahas blognya si Ayu. Barangkali lain kali saja, kalau pembaca ingin mengetahuinya lebih lanjut, klik saja link tersebut. Saya akan membahas tentang apa itu memoar.

Memoar, dalam bahasa inggris sepadan dengan kata memoir. Yang artinya kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau menyerupai autobiografi yang ditulis dengan menekankan pendapat, kesan, dan tanggapan pencerita atas peristiwa yang dialami dan tentang tokoh yang berhubungan dengannya. Atau catatan, rekaman tentang pengalaman hidup seseorang.


Di situ tersirat bahwa memoar berbeda dengan autobiografi. Saya sangat setuju dengan pernyataan Gore Vidal, ini saya kutip langsung tanpa penerjemahan:

a memoir is how one remembers one’s own life, while an autobiography is history, requiring research, dates, facts double-checked.”
Ternyata merujuk kepada pendapat Vidal, saya juga menulis memoar. Saya menulisnya karena wujud terapi diri atas masalah kehidupan saya. Tetapi saya masih menulisnya sebatas ingatan saya tentang masa kecil saya sampai duduk di sekolah menengah atas. Dan saya tidak ingin menawarkan memoar saya ke penerbit. Malu.

Ada sebuah kisah menarik. Diturunkan turun temurun kepada generasi keluarga, sebuah catatan memoar. Keluarga tersebut, bolehlah kita sebut Keluarga yang Menurunkan Memoar. Isinya? Memoar Ayah dan ibu nenek moyang mereka.

Apa yang menarik dari sana? Ternyata semua keluarga antusias membaca memoar itu. Sehingga semangat dan pandangan hidup nenek moyang mereka menurun. Sangat menyenangkan membaca ingatan seseorang tentang kehidupannya sendiri. Besar kemungkinan dia menulis dengan gaya dan bahasa yang jujur. Dan bukan tidak mungkin, kita menemukan humor di sana.

Saya juga ingin memoar saya kelak dibaca anak, cucu, cicit sampai keturunan saya yang paling jauh. Sangat menyenangkan ketika mereka mengetahui saya dan bagaimana saya menjalani hidup saya. Alangkah nikmatnya, diingat dan dikenang oleh mereka. Alangkah bangganya, mereka mengikuti apa yang saya lakukan dengan benar, baik dan adil. Dan alangkah terharunya, mereka tidak mengikuti kesalahan saya.


Gambar dipinjam secara paksa di sini.

1 comment: